Ibu maafkan saya, saya sudah berusaha mencari tapi “BAPAK TELAH GUGUR”
0 0
Read Time:8 Minute, 59 Second


Aku, Amelia puteri Yani telah kehilangan seorang bapak yang sangat aku cintai dan aku telah rela untuk itu. Dia telah lama 
berbaring di Taman Makam Pahlawan bersama-sama kawan-kawan seperjuangannya. Dia telah membisu dan tidak mungkin lagi aku ajak bicara. Akan tetapi rasanya di keheningan malam yang sunyi, bapakku sering berkata kepadaku: Kau putriku untuk apa bapak ini berkorban, apakah untuk sesuatu atau tidak untuk sesuatu? Apakah sia-sia pengorbanan itu? apakah arti dari jenazah yang telah menyatu dengan tanah ini? Jawablah anakku, karena hanya engkau dan seluruh putra-putri bangsa ini yang dapat memberi jawabab maupun yang dapat memberi arti dari pengorbanan kami ini. 

(isi hati tersisa dari Amelia A.Yani)

Mayor Soebardi ajudan Letnan Jenderal Ahmad Yani

Salah satu kisah yang jarang orang tahu tentang peristiwa pembunuhan Letnan Jendral Ahmad Yani adalah saat sang ajudan Mayor Soebardi mencari sang Jendral tanpa tidur hampir 4 malam…

Mbok Milah pembantu lama yg ikut keluarga Pak Yani oleh anak anak Pak Yani disuruh kerumah om Berdi, salah seorang ajudan kepercayaan pak Yani.

Mayor Berdi tergopoh gopoh setengah berlari ke kediaman Pak Yani.

Saat om Bardi ajudan bapak datang, serta merta kami semua lari berhamburan kepadanya. Sambil menunjuk gumpalan dan ceceran darah, kami beritahu kalau bapak telah ditembak dan dibawa pergi oleh tentara-tentara berseragam hijau, pakai baret merah, sepatu lars dan banyak kain-kain kecil warna putih, merah, kuning di pundak mereka.

Tiba-tiba sebuah jib masuk pekarangan rumah kami

Om Bardi kaget. Dahinya mengkerut. Dia seakan berusaha mencari jawaban, kenapa bapak dibunuh. Sejurus dia mondar-mandir dengan nafas yang tidak menentu.

Belum habis dengan Om Bardi, tiba-tiba sebuah jib masuk pekarangan rumah kami, setelah ditengok rupanya jib itu membawa ibu pulang. Begitu masuk rumah ibu kaget lantaran mendapati kami semua sudah bangun. Ibu bertanya, “Ada apa pagi-pagi sudah bangun”. Dengan perasaan galau, kami katakan, “Bu… bapak bu. Bapak ditembak dan dibawa pergi naik truck”. Seketika ibu menjerit-jerit.

Ibu histeris. Sambil berlari ke luar rumah ibu meminta, “Cari! Cari bapak! Cari sampai ketemu! Kemana bapak? Cari! Cari!”.

Kami semua tertegun bingung, kacau. Sementara Om Bardi tampak terus mondar-mandir karena bingung tak tahu harus buat apa. Sejurus ibu pingsan dan kami gotong beramai-ramai ke dalam rumah. Ia dibaringkan di kursi biru di ruang makan. Ketika sadar dari pingsannya, ibu mengajak kami untuk berdoa bersama.

Jam 06.00 pagi, Jenderal Umar Wirahadikusuma, Panglima Kodam V Jaya datang sebelum masuk ke rumah dan menemui ibu Yayuk, Pak Umar marah marah pada tentara garnisun yang bertugas menjaga rumah pak Yani.

Diluar datang lagi ajudan Pak Yani yang lain yakni Mayor Sandi, dengan muka masih pucat dan terlihat panik om Sandi marah marah pada pasukan yang menjaga rumah Pak Yani..

Kabar buruk kedua di pagi hari itu

” Bagaimana sih kamu ini!.. Masak jaga begitu saja tidak mampu!…. Kamu tentara t**k!…semua t**k!”…

Para penjaga yang malam itu bertugas hanya diam dimaki maki sang Ajudan…

Dengan membawa mobil fiat milik Emmi Yani, putri Pak Yani, dua ajudan Menpangad ini menuju rumah pak S. Parman untuk melapor dan mendapatkan petunjuk untuk tindak lanjut dari asisten intellijen itu. Ternyata, mereka justru mendengar kabar buruk kedua di pagi hari itu di rumah Soewondo Parman, bahwa sang jenderal juga diculik dinihari itu dari kediamannya. Segera keduanya meluncur ke rumah Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah dan tiba di sana 05.00. Ternyata Umar pun belum memperoleh sesuatu informasi yang berarti.

Mayor Subardi yang belum mengetahui nasib Letnan Jenderal Ahmad Yani yang sebenarnya, menyarankan kepada Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah meminta bantuan RPKAD untuk memblokir seluruh jalan penting di ibukota dan jalan keluar dari Jakarta. Sang Panglima Kodam menyetujui usul tersebut dan menyuruh mereka berdua pergi menemui Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Pak Sarwo Edhie Wibowo menerima mereka dengan masih mengenakan baju tidur, saat menerima laporan singkat, Pak Sarwo Edhie Wibowo melirik potret Soekarno yang tergantung di dinding seraya berkata…

” Pasukan RPKAD ada di Senayan dan tanpa peluru”.

Akhirnya melalui telepon ia menghubungi Komandan Batalion I, Mayor Chalimi Imam Santosa, yang tinggal beberapa blok dari kediamannya di kompleks tersebut. Kolonel Sarwo Edhie yang telah memakai seragam ‘tempur’, tiba dalam beberapa menit kemudian di kediaman Mayor CI Santosa dan menanyakan posisi pasukannya. Ternyata pasukan Santosa berada di Parkir Timur Stadion Senayan, karena akan mengikuti gladi resik dalam rangka persiapan Hari ABRI 5 Oktober 1965.

Pasukan tersebut, meski bersenjata lengkap, namun tak dibekali peluru. Kolonel Sarwo Edhie memerintahkan Mayor Santosa segera menarik pasukannya kembali ke Cijantung.

Saat itu, personil RPKAD yang berada di Cijantung terbatas, terutama karena sebagian berada di daerah perbatasan dengan Malaysia atau ditempatkan di daerah lainnya. Santosa segera meluncur ke Senayan dan tiba di sana tepat pukul 06.00. Ia mengumpulkan seluruh anggota Batalion I, memerintahkan mereka naik truk untuk segera berangkat kembali ke Cijantung.

Mereka berpapasan dengan sebuah truk

Seorang Laksamana Muda Angkatan Laut yang menjadi koordinator pasukan-pasukan yang dipersiapkan untuk acara di Senayan itu, muncul dan mempertanyakan ada apa dan hendak ke mana pasukan itu pagi-pagi begini, tapi Mayor Santosa menghindar dengan sopan lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat. Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan sebuah truk perbekalan yang dikirim Sarwo Edhie, berisi amunisi. Mayor CI Santosa segera membagi-bagikan peluru kepada pasukannya, sehingga sejak saat itu, pasukan yang berkekuatan beberapa kompi tersebut sudah dalam keadaan siap tempur.

Di Markas RPKAD Cijantung Batalion 1 ini berkumpul di lapangan, bergabung dengan kompi dari Batalion 3 yang berasal dari Jawa Tengah yang tiba beberapa waktu sebelumnya dan disiapkan untuk berangkat ke daerah perbatasan konfrontasi di Kalimantan Barat namun terhambat keberangkatannya belasan jam karena masalah angkutan udara yang terkendala. Terdapat pula sejumlah personil yang terdiri dari instruktur dari Batujajar yang akan ikut dalam kegiatan Hari ABRI.

Siapa saja yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.

Mayor CI Santosa memberikan briefing ringkas, bahwa tak ada satu pun anggota pasukan yang boleh bergerak tanpa perintah darinya, dan “saya akan menembak mereka yang melanggar perintah”. Kolonel Sarwo Edhie Wibowo yang tampil berbicara sesudah itu, membentangkan dengan singkat tentang adanya sejumlah jenderal Angkatan Darat yang diculik dinihari tersebut dan belum diketahui dengan jelas oleh siapa atas perintah siapa, dibawa ke mana dan bagaimana nasibnya saat itu. Sarwo juga memperingatkan agar waspada, karena saat itu belum bisa ditentukan dengan jelas siapa saja yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.

sekitar 10.30, Sarwo Edhie mendengar derum panser menuju ke tempatnya. Ia bersikap waspada. Seorang Letnan Kolonel yang tak dikenal Sarwo meloncat turun dari panser.

” Sopo kae Di?” tanya komandan Resimen elit Angkatan Darat ini pada Mayor Bardi… namun sebelum Mayor Bardi menjawab sudah ada staf RPKAD yang memberi tahu pak Sarwo Edhie Wibowo bahwa itu adalah Letnan Kolonel Herman Sarens Sudiro, seorang perwira yang menangani logistik tempur dan penempatannya dilakukan atas perintah Letnan Jenderal Ahmad Yani sendiri. Herman Sarens mengaku kepada Kolonel Sarwo bahwa ia diutus Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto, dan untuk itu ia dibekali sepucuk surat, menjemputnya untuk bertemu dengan sang Panglima Kostrad di Merdeka Timur.

Kolonel Sarwo Edhie menjawab, sambil tertawa, “Dengan panser”.

Agak lama Sarwo Edhie membaca surat Soeharto. Komandan RPKAD itu mempertimbangkan, apakah ia memenuhi panggilan Soeharto atau tidak. Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto bukan atasan langsungnya, dan RPKAD pun tidak berada di bawah komando Kostrad. Ia tidak mengenal Soeharto dengan baik. Namun, ketidakjelasan keberadaan dan nasib atasan langsungnya, Letnan Jenderal Ahmad Yani, mendorongnya untuk bersedia bertemu dan menghitung bahwa suatu kerjasama dengan Soeharto dalam situasi serba tidak jelas saat itu mungkin ada gunanya. Lalu, ia berkata kepada Letnan Kolonel Herman Sarens Sudiro, “Saya akan ke sana”. Herman Sarens balik bertanya, dengan kendaraan sendiri atau ikut panser? Kolonel Sarwo Edhie menjawab, sambil tertawa, “Dengan panser”. Pukul 11.00 Sarwo Edhie sudah berada di Markas Kostrad dan bertemu Mayor Jenderal Soeharto. Keputusan Mayor Jenderal Soeharto mengajak Kolonel Sarwo Edhie bergabung, dilakukan dengan memperhitungkan kedekatan Komandan Pasukan Khusus itu dengan Letnan Jenderal Ahmad Yani. Takkan mungkin Sarwo Edhie menolak, bila itu menyangkut nasib Ahmad Yani.

Dari tanggal 1 sampai tanggal 2 Oktober masih belum jelas nasib para Jendral, Mayor Bardi sendiri sudah mutar mutar Jakarta untuk mencari nasib atasannya tersebut, hingga tanggal 3 Oktober jam 04.30 telepon berdering….

Pak Yani sudah tiada…

” Di…bapak mu positif wes ra” ene’.. sudah gugur dan Pak Harto sedang ke Bogor.. Kamu segera ke markas Kostrad! ” suara Kolonel Ali Moertopo diserang telepon.

Bagai disambar petir… Mayor Bardi mendengar Pak Yani sudah tiada… sempat menitikan air mata sang ajudan ini akhirnya berangkat ke markas Kostrad.

Setelah menghadap pak Harto, Mayor Bardi di minta membawa serta Soekitman seorang anggota Polisi yang lolos dari kawasan Lubang Buaya.

Soekitman di anggap tahu keberadaan sumur tersebut mengingat ceritanya. Menuju ke Cijantung untuk menemui pak Sarwo Edhie Wibowo…

” Iyo yo…wes ene perintah seko bung Karno, pasukan tidak boleh bergerak dan dikumpulkan dikesatuan masing masing, kalo aku beri pasukan, artinya aku melanggar perintah”

Kita berangkat terang terangan.. operasi terbuka!”

” Di, ambil polisi itu nanti kemari lagi, akan saya beri pasukan berpakaian preman” perintah pak Sarwo Edhie Wibowo pada Mayor Bardi.

Mayor Bardi memberi hormat dan langsung menuju KOMDAK METRO JAYA untuk menjemput Soekitman, sesuai perintah pak Sarwo Edhie Wibowo tadi mereka kembali ke markas RPKAD di Cijantung…

Saat baru saja memberi Hormat.. ” Di! Situasi nya lain!… Pasukan sudah siap, kita tidak perlu preman premanan, kita berangkat terang terangan.. operasi terbuka!”

Bergerak mereka menuju lubang buaya. Sesampainya di sana sempat dihadang oleh kesatuan PGT nya AURI. Sempat bersitegang sebelum akhirnya mereka bisa ke lokasi sumur maut itu.

Pencarian dan penggalian dimulai sampai jam 02.00 pagi, akhirnya Mayor Bardi berangkat menuju Kostrad untuk melaporkan situasi pada Pak Harto. Setelah melapor sang ajudan kembali ke lokasi lubang buaya jam 03.00 dan menunggu sampai siang karena Pak Harto akan hadir pada saat pengangkatan jenasah.

Jam 14.00 pak Harto datang dan memimpin langsung pengangkatan jenazah para Jendral Angkatan Darat tersebut

Lama sekali waktu dirasakan Mayor Bardi saat itu, sampai saat suasana mereda dan Pak Harto berbisik pada Mayor Bardi….

” Di urusen Bapakmu, dan segera melapor pada bu Yani”

Awalnya Mayor Bardi menolak, namun pak Harto kembali berkata ” wes koe wae”

Dengan berat hati membayangkan seperti apa sedihnya ibu Yani,Mayor Bardi langsung ke Pasar Minggu untuk menemui Ibu Yani…

“Ibu maafkan saya, saya sudah berusaha mencari tapi bapak telah gugur” seraya menunduk tanpa berani menatap istri sang atasan.

Mata Mayor Bardi pun tak terasa meneteskan air mata…

Dari kisah di buku karya ibu Amelia Yani

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Oktober, Pemilik Kendaraan di DKI Harus Cantumkan Nomor HP dan E-mail di BPKB
0 0
Read Time:1 Minute, 20 Second

Pihak kepolisian tengah gencar melakukan sosialiasi agar para pemilik kendaraan bermotor segera melengkapi data Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB)-nya dengan nomor telepon dan alamat e-mail. Hal ini terkait sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcment (ETLE) yang akan diuji coba per 1 Oktober 2018

No HP dan E-Mail

“Kendaraan bermotor baru ataukah perubahan mulai 1 Oktober itu harus mencantumkan nomor HP dan e-mail. Kami sudah mulai sosialisasi, Oktober harus sudah dimulai,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Yusuf ketika ditemui di ruangannya, Senin (18/9/2018). Yusuf mengatakan, data itu sangat diperlukan dalam proses penilangan secara elektronik. Nomor telepon dan alamat e-mail akan memudahkan petugas menghubungi pelanggar, kemudian mengirimkan surat tilang.

Surat tilang tersebut dikirimkan petugas melalui jasa ekspedisi barang Pos Indonesia setelah petugas verifikasi memastikan pemilik kendaraan melakukan pelanggaran lalu lintas berdasarkan tangkapan gambar CCTV. 

Ilustrasi

Uji Coba Sistem Tilang Elektronik

“Jadi saya berharap dengan adanya ETLE ini pengawasan polisi di lapangan menjadi lebih efektif dan tepat,” ujar Yusuf. Sistem tilang elektronik ini akan mulai diuji coba pada Oktober 2018 di ruas Jalan Sudirman hingga MH Thamrin.

Yusuf mengatakan, dalam sistem penindakan pelanggar lalu lintas berbasis elektronik ini akan menggunakan kamera pemantau (CCTV) berteknologi canggih yang didatangkan dari China. “Jadi kamera ini dapat langsung menangkap gambar atau meng-capture kendaraan yang melakukan pelanggaran lalu lintas,” ujar Yusuf.

Yusuf mengatakan, kamera ini dapat membidik objek hingga jarak 10 meter selama 24 jam.

Kamera-kamera CCTV ini nantinya akan dipasang di persimpangan-persimpangan jalan. Hasil tangkapan gambar akan langsumg terpantau di Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya.

Artikel ASli

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Van yang mengerikan di Jepang
0 0
Read Time:1 Minute, 3 Second

Inilah mobil Higurashi Itasha Van yang mengerikan dari Jepang

Sebuah van itasha yang dibuat secara custom, yang mengambil model dari Higurashi no Naku Koro ni, telah menarik perhatian di Prefektur Fukui, Jepang. Melihat detail realistis yang dimasukkan ke dalamnya, tak perlu dipertanyakan lagi mengapa mobil ini terlihat mengerikan.

Iterasi pertama dari van ini dibangun pada tahun 2009, dan sebelumnya merupakan van hitam dengan menampilkan separuh tubuh ke bawah dari seseorang yang mencuat dari bagian belakang mobilnya dan berbagai stiker decal dari para karakternya. Menurut Shiren Amakusa, pemilik van tersebut, ia menemui masalah ketika menyesuaikan van pertamanya, karena warnanya hitam, yang akan membuat darahnya kurang terlihat jelas. Versi terbaru dari vannya memecahkan masalah itu, serta menambahkan tangan manusia yang keluar dari kap mesin depannya.

Tentu saja, karena vannya dibuat dengan detail yang mengerikan seperti itu, Shiren telah dipertanyakan beberapa kali oleh polisi. Beberapa petugas yang memeriksa bahkan mengaku telah mendengar suara seorang wanita yang berasal dari vannya, yang tidak akan terlalu mengejutkan karena van ini dilengkapi dengan pemutar rekaman vokal.

Jika kalian melihat sekilas van ini saat kalian berada di prefektur Fukui, pastikan untuk berfoto dengan mobil ini. Untuk informasi lebih lanjut dari perkembangan itasha Higurashi ini, berkunjung saja ke akun Twitter resmi mobil ini.

Artikel Asli

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Biaya Sewa Kendaraan di Jepang
0 0
Read Time:46 Second

Harga sewa kendaraan di Tokyo, Kyoto dan Osaka ternyata berbeda-beda, begitu juga penyedia jasa sewa kendaraannya.

Biaya Sewa Transportasi di Jepang … berikut harga yang dapat saya kumpulkan dari beberapa penyedia jasa sewa transportasi

TOKYOVANBIS KECILBIS SEDANGBIS BESAR
fujiinternational.co         70,850            84,500          110,750          131,750
tripjepang.co.id         90,000          120,000          140,000          180,000
wisatajepang.co.id         85,000          120,000          130,000          180,000
tourkejepang.com         85,000          110,000          130,000          190,000
tourjepang.co.id0         125,000          160,000          200,000
KYOTO / OSAKAVANBIS KECILBIS SEDANGBIS BESAR
fujiinternational.co86600         112,850          121,250          142,250
tripjepang.co.id100000         130,000          150,000          200,000
wisatajepang.co.id90000         130,000          140,000          200,000
tourkejepang.com90000         140,000          140,000          200,000
tourjepang.co.id0         140,000          170,000          210,000

silahkan cek kembali ke link website nya, untuk memastikan harga terbaru dari masing-masing penyedia jasa sewa kendaraan nya.

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Kebrutalan Club dan Komunitas Motor menyantuni 1000 Anak Yatim
0 0
Read Time:1 Minute, 12 Second

Kebrutalan Club dan Komunitas Motor menyantuni 1000 Anak Yatim

Telah kami sampaikan dgn tepat sasaran, sukses, khidmat dan lancar amanah dari para donatur untuk menyantuni para Anak Yatim/Piatu di Panti Asuhan ‘Insan Madani’ desa Gunung Bunder, Kec. Pamijahan pada hari Minggu (16-09-2018).
Pada kesempatan ini pula selain para panitia dan Bikers kegiatan ini yang di dukung penuh oleh Universitas Esa Unggul, SDIT Birrul Walidain, Bpk. Camat, Bpk. Kapolsek, Bpk. Danramil (Pamijahan) serta Bpk. Lurah (Gunung Bunder) serta para ustadz dan kiyai serta tokoh masyarakat setempat.

Alhamdulillah Bakti Sosial Gabungan ini terealisasi untuk menyantuni 1000 Anak Yatim/Piatu sekecamatan Pamijahan, Bogor, juga penyuluhan dan pengobatan gratis dari Fisioterapi dan Unit Kegiatan Mahasiswa KSR PMI  Universitas Esa Unggul. 
Semoga kegiatan amal / bakti sosial ini diberkahi Allah SWT, dan dilimpahkan selalu pahala tak terhingga serta kesehatan bagi para panitia, donatur serta semua pihak yg mendukung kegiatan ini. Amin.

Hadir dalam acara ini Rektor Universitas Esa Unggul Dr.Ir. Arief Kusuma, M.B.A. dan Ketua Yayasan Insan Madani, Pamijahan 1, Gunung Bunder, Bogor. memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Dalam sambutan acara Santunan 1000 anak yatim menjadi bentuk kepedulian dari seluruh elemen baik dari akademisi, masyarakat umum hingga kalangan komunitas untuk bergerak bersama membantu warga yang mungkin berkekurangan.

Ratusan All Bikers Hadir

Acara ini dihadiri lebih dari ratusan biker sejabodetabek. Mudah-mudahan acara bakti sosial santunan anak yatim ini kedepannya dapat dilanjutkan pada tahun depan.

#BassGab1000Yatim2018

#allbikerarebrothers  

#JemputlahKebaikanDenganMotorMu

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
10 Potret miris Kamagasaki, kota yang dihilangkan dari peta Jepang
0 0
Read Time:1 Minute, 56 Second

Kotanya sangat kumuh dan menyedihkan.

Brilio.net – Jepang salah satu negara di Asia yang dikenal akan kreativitas penduduk dan juga kemajuan teknologinya. Oleh karena itu, banyak negara berkembang di wilayah Asia yang menjadikan Jepang sebagai ‘kiblat’. Maka tak heran jika banyak wisatawan asing yang ingin mengunjungi Negeri Matahari Terbit ini.

Selain kreatif dan perkembangan teknologinya maju, Jepang juga dikenal sebagai negara yang bersih. Hal ini bisa berjalan tentu karena kedisiplinan warganya dan pemerintah yang selalu mendukung dengan program kebersihan.

Orang tua dan orang pengangguran

Tapi tak banyak tahu bahwa ada salah satu kota Jepang yang malah dikenal akan kekumuhannya. Kota ini disebut Kamagasaki. Seperti tak terurus, kota ini terlihat sangat kumuh. Selain itu penghuninya pun sebagian besar merupakan orang tua dan orang pengangguran.

Saking kumuhnya, kota ini sampai dihilangkan dari peta resmi Jepang. Pemerintah beralasan Kamagasaki merupakan kota yang memalukan negara. Selain dihapus dari peta resmi, pemerintah juga memblokir info-info tentang Kamagasaki. Tentunya agar banyak orang yang tidak tahu bahwa di Jepang yang dikenal kebersihannya ini juga memiliki kota kumuh.

Seperti apa potret sudut-sudut kota kumuh Kamagasaki ini? Berikut deretan fotonya, seperti dilansir brilio.net dari berbagai sumber, Senin (10/9).

1. Jepang memang dikenal sebagai negara yang dikenal kebersihannya. Tapi tak banyak yang tahu, ternyata ada salah satu kota yang wajahnya jauh berbeda dari kota-kota di Jepang lainnya.

foto: tokyotimes.org

2. Yaitu Kamagasaki, salah satu kota kumuh yang ada di Jepang.

foto: tokyotimes.org

3. Banyak penduduknya merupakan para lansia. Selain itu, orang pengangguran jumlahnya sangat banyak yang tinggal di sini.

foto:tokyotimes.org

4. Masyarakat di sini banyak yang tak memiliki rumah. Akibatnya mereka tidur di sembarang tempat seperti kolong jembatan atau di gedung yang sudah tak terpakai.

foto:tokyotimes.org

5. Saking tak terurusnya, pemerintah Jepang sampai menghilangkan kota ini dari peta resmi negara.

foto: medium.com

6. Pemerintah juga memblokir info-info yang mengekspos kota kumuh ini. Dengan tujuan agar sedikit orang yang tahu tentang salah satu aib Negeri Matahari Terbit.

foto: taringa.net

7. Meski diasingkan, masyarakat setempat masih menjalani hidup seperti biasa.

foto: taringa.net

8. Kegiatan jual-beli juga masih berjalan di sini.

foto: wikipedia.org

9. Acara hiburan seperti festival tahunan pun masih rutin digelar di Kamagasaki.

foto: guideplanet.com

10. Hmmm… Kira-kira kamu tertarik mengunjungi kota ini?

foto: taringa.net

Artikel Asli

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Catalog Spare Part Yamaha Scorpio
1 0
Read Time:20 Second

Keluarga Yamaha Scorpio

Motor ini adalah salah satu motor tipe street fighter yang sejarahnya sangat unik, hanya dengan iklan yang tidak jelas penampakan motornya, tetapi sangat laku keras di pasaran pada masanya.

Motor ini masih sangat banyak yang menggunakan, dan kami share buku katalog untuk panduan pecinta yamaha scorpio agar dapat mengetahui spare part motor tercintanya.

Klik Download

Komunitas Pecinta Yamaha Scorpio

Bebas dan Bertanggung Jawab (SCORPiOHOLiC)

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Detik-detik Rossi Tolak Jabat Tangan Marquez
0 0
Read Time:1 Minute, 45 Second

Menolak Jabat Tangan

Insiden menarik terjadi dalam konferensi pers jelang MotoGP San Marino di Sirkuit Misano, Kamis (6/9), ketika Valentino Rossi menolak ajakan jabat tangan Marc Marquez.

Hubungan Marquez dan Rossi kembali menjadi perbincangan jelang balapan MotoGP San Marino, Minggu (9/9), yang merupakan seri kandang The Doctor. Marquez dalam wawancara dengan Sky Sports mengaku ingin berdamai dengan Rossi, namun hingga kini gagal mewujudkannya.

Masalah dengan Marquez

Dalam konferensi pers jelang MotoGP San Marino, Rossi mengaku tidak memiliki masalah dengan Marquez. Pebalap asal Italia itu mengatakan tidak perlu berdamai dengan Marquez.

“Saya dengar wawancara Marquez, tapi saya tidak tahu. Menurut saya aneh, karena kenyataannya tidak ada masalah antara saya dengan Marquez. Jadi, saya tidak tahu untuk apa berdamai,” ucap Rossi dikutip dari Crash.

Marc Marquez berusaha berjabat tangan dengan Valentino Rossi di sesi konferensi pers. (AFP PHOTO / Toshifumi KITAMURA)

Mendengar pernyataan Rossi, Marquez merasa antusias dan menyatakan, “Bagi saya ini sesuatu yang bagus [mendengar Rossi mengatakan tidak ada masalah] dan tentunya tidak ada masalah juga dengan saya.”

Menggelengkan kepala

Menariknya, Marquez kemudian berusaha berjabat tangan dengan Rossi. Namun, Rossi menolaknya. Pebalap 39 tahun itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala ketika Marquez berusaha menjabat tangannya.

Insiden itu terjadi di depan awak media dan empat pebalap lainnya yang hadir dalam konferensi pers MotoGP San Marino: Andrea Iannone, Jorge Lorenzo, Andrea Dovizioso, dan Pecco Bagnaia.

Setelah Rossi menolak jabat tangannya, Marquez mengatakan, “Situasinya selalu seperti ini. Maksud saya, saya bisa apa lagi? Ini sudah dua kali (saya berusaha minta maaf). Tidak masalah. Saya akan membalap dengan cara yang sama.”

Menanggapi pernyataan Marquez, Rossi kemudian merespons, “Kami tidak perlu berjabat tangan. Kami baik-baik saja. Kami tidak punya masalah.”

Marquez menabrak Rossi

Hubungan Rossi dengan Marquez kembali memanas setelah insiden di MotoGP Argentina, 8 April lalu. Ketika itu Marquez menabrak Rossi hingga pebalap Movistar Yamaha itu terjatuh.

Artikel Asli

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Tak Diberi Izin, Resign demi Asian Games 2018
0 0
Read Time:2 Minute, 1 Second

Tak Diberi Izin Kantor Tampil di Asian Games 2018, Yudha pun Pilih Resign

Jakarta – Yudha Tri Aditya memilih untuk berhenti bekerja demi Asian Games 2018. Dia tak mau melewatkan kesempatan membela negara, juga memenuhi harapan almarhum bapak.

Photo by Sulaiman’s Family

Cidera

Yudha merupakan atlet senam trampolin, yang bersama Sindhu Aji Kurnia, menjadi wakil Indonesia di nomor tersebut pada Asian Games 2018. Dia dulu merupakan mantan pesenam artistik gymnastik, namun kemudian berhenti setelah gagal di Pekan Olahraga Nasional 2016 karena cedera.

Pria 28 tahun itu kemudian lanjut bekerja di salah satu taman bermain yang ada di Bandung. Di sana, Yudha bekerja sebagai badut, pemain sirkus, dan juga penjaga wahana.

Belajar Otodidak

Dari pekerjaannya itu pula, Yudha belajar senam trampolin memanfaatkan wahana yang ada. Dia belajar secara otodidak dengan mengandalkan tutorial video di Youtube.

Pada prosesnya Yudha mulai berkembang dalam senam trampolin. Dia akhirnya masuk pelatnas trampolin untuk tanding di Asian Games 2018 setelah merebut medali emas dan perak dalam perlombaan di Houbii.

Photo by Sulaiman’s Family

Tidak dapat ijin Yudha Resign

Akan tetapi, jalan menuju Asian Games 2018 punya risiko besar untuknya. Manajer tempatnya bekerja tak memberi izin untuknya tampil di ajang bersejarah ini, Yudha pun memilih keluar dari pekerjaannya. 

Keberanian Yudha meninggalkan pekerjaannya tak terlepas dari memorinya bersama almarhum sang ayah, semasa masih kecil.
“Keluarga setuju-setuju aja aku jadi badut, apalagi aku ini tulang punggung keluarga,” kata Yudha saat mengingat perjalanannya yang berat sambil meneteskan air mata.

Mimpi almarhum Bapak

“Aku tidak dapat izin di tempat kerja itu, sampai akhirnya dia (manajer) memberi pilihan mau pekerjaan atau Asian Games. Dia bilang kerjaan tiap bulan ada (gaji) dan reguler juga ada, sedangkan Asian Games cuma sementara. Terus dia bilang Asian Games tidak penting juga,” sambungnya.

“Aku kecewa dengan omongan manajer. Gila, dia bilang Asian Games tidak penting. Itu padahal ajang yang tidak mudah. Akhirnya aku ambil keputusan ikut Asian Games demi mimpi almarhum bapak aku.”

Yudha Tri Aditya

“Waktu tahun 1993 ada pembukaan olahraga gitu, aku digendong bapak nonton pembukaan. Masih ingat betul aku omongannya. Bapak bilang kapan ya anakku bisa bela kota, apalagi sampai bisa bela negara.”

“Waktu pembukaan Asian Games aku langsung merasakan bahwa mimpi itu terjadi. Tapi, aku di saat itu juga merasakan lagi kehilangan bapak.”

Selepas tampil di Asian Games, Yudha belum tahu mau akan bekerja di mana lagi. Saat ini dia cuma mengisi hari-hari dengan melatih pesenam trampolin di Houbii dengan bayaran tak pasti.

Sumber: detikcom

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya
0 0
Read Time:6 Minute, 33 Second

Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya

oleh : Wewey Wita


Wewey Wita

Segala hal tentang hidupku serupa paradoks.

Aku seorang perempuan. Aku berdarah Tionghoa dan papaku warga negara Singapura. Aku bertarung untuk Indonesia.

Ada sebuah streotipe di negara ini bahwa orang-orang Tionghoa pasti mapan dan berada. Tentu saja itu omong kosong. Percayalah, jika situasi ekonomi setiap keluarga ibarat garis start bagi anak-anak yang terlahir darinya, aku mulai jauh, jauh, dari belakang.

Kemiskinan mendesak kami ke tepi

Pada mulanya keluarga kami berkecukupan. Namun, suatu ketika Papa, yang berbisnis kayu, ditipu rekannya sendiri. Hidup seketika jadi bak abu di atas tanggul. Segalanya goyah, lalu ambruk. Bank menyita rumah, mobil, dan harta lainnya. Hidup di kota semakin menekan. Kemiskinan mendesak kami ke tepi.

Papa memboyong seluruh keluarganya ke kampung halaman Mama di Ciamis. Tinggal di kota kecil tak serta merta membuat hidup kami membaik. Papa enggan menumpang di rumah nenek karena ia enggan jadi beban. Ia ingin mandiri walau sulit.

Kami berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi

Kami tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Papa dan Mama mencoba bangkit berkali-kali, mulai dari berjualan bakso hingga barang-barang kelontong. Kami berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi.

Utang membengkak. Kami bahkan tak sanggup menanggung biaya keperluan sehari-hari seperti beras, minyak, gula dan lain-lain. Suatu kali listrik rumah kami diputus karena pembayaran terlalu lama ditunggak. Bermalam-malam gelap gulita. Untuk mengecas ponsel Papa, satu-satunya alat komunikasi kami, aku terpaksa menumpang di rumah tetangga.

“Memang listrik punya nenek moyang lu?”

Bentakan itu akan selalu tergiang dalam kepalaku.

Mr. Tong

Papa bernama asli Yeo Meng Tong. Ketika ia masih berduit, orang-orang memanggilnya Mr. Tong dengan lagak manis. Begitu kami kere, orang enteng saja menyapanya Atong. Terkadang malah Otong. Itu membuatku jengkel. Kau tahulah, itu nama yang sering diberikan laki-laki buat alat kelaminnya sendiri.

Bagaimana pun, aku selalu merasa beruntung memiliki Papa yang tangguh dan penyabar. Dia tak pernah menyuruh istri atau anak-anaknya bekerja buat meringankan bebannya. Bahkan hal-hal sepele seperti menyapu, mengepel, atau mencuci piring, sering ia lakukan sendiri.

Pemimpin sejatinya ialah pelayan

Aku pernah memergokinya berkata, dengan mesra, kepada Mama: “Biar Papa saja.” Papa adalah pemimpin keluarga kami, dan ia mengerti bahwa pemimpin sejatinya ialah pelayan.

Papa tak banyak bicara. Dia selalu memberi contoh dengan tindakan. Sifat konsekuen papa mulai kutiru sejak aku kecil. Sedari dulu aku sudah menyadari aku harus punya andil dalam keluarga ini.

Sejak kecil aku terbiasa bergaul dengan laki-laki. Aku jago bermain kartu dan gundu. Jika menang, gundu dan kartu mereka yang kumenangkan bisa kujual kembali. Uangnya kuserahkan ke Mama.

Konyol, jelas. Naif, mungkin. 

Itu bukan satu-satunya trik yang kupunya buat mencari uang. Bukan, bukan beternak tuyul. Dulu, ada snack berharga Rp500 yang kadang berisi hadiah uang Rp.5,000. Di warung langgananku, satu demi satu bungkus snack itu kukocok, kutimbang, kudengarkan bunyinya. Kalau cocok, aku ambil. Jika tidak, dengan polosnya aku akan berlalu meninggalkan penjaga warung yang cemberut karena barang dagangannya aku acak-acak. Konyol, jelas. Naif, mungkin. Tapi kisah itu benar belaka.

Saat aku lahir, Papa menamaiku Yeo Chuwey. Dalam bahasa Indonesia, artinya cukup keren: nomor satu yang paling bersinar. Sayang, kegaduhan politik di Indonesia waktu itu membuat Papa berpikir nama Tionghoa hanya akan membuat hidupku makin sulit. Maka, di akta kelahiranku tertera nama utama yang “lebih Indonesia”: Wewey Wita.

Latar belakang keluargaku

Sampai di sini, setelah mengetahui latar belakang keluargaku, kau mungkin mengira aku seorang atlet badminton, wushu, kungfu, basket, bridge, atau olahraga-olahraga yang telanjur lekat dengan etnis Tionghoa. Salah, aku adalah seorang pesilat.

Pencak silat cenderung lebih dekat dengan identitas keindonesiaan yang dibatasi pada satu entitas yakni etnis Melayu. Berkulit coklat, bukan kuning. Tentu pencak silat sendiri tak melahirkan sekat-sekat itu. Pembatasan, kukira, hanya ada dalam kepala kita. Pencak silat, seperti Indonesia, memeluk siapa saja yang mencintainya, termasuk aku.

Peragaan busana

Aku sendiri tak menyangka silat bisa jadi bagian dari hidupku. Memang semasa kecil aku biasa bermain dengan anak lelaki dan ikut beragam ektrakurikuler olahraga, mulai dari voli dan basket hingga karate dan taekwondo. Mama selalu memaksaku menampakkan sisi feminin, sampai-sampai dia pernah memaksaku ikut lomba peragaan busana yang diadakan Radio Pitaloka, stasiun radio terkenal di Ciamis.

Aku terpilih sebagai juara 2. Tetapi aku tak peduli. Buatku, berlenggak-lenggok itu tak nyaman. Kurasa bakatku memang olahraga. Semua guru olahraga mengenalku. Dalam berbagai kejuaraan olahraga antar sekolah, namaku selalu muncul dan mereka banggakan. Lalu, terjadilah sesuatu yang mengubah hidupku.

“Silat.”

Dalam sebuah pesta perpisahan kakak kelas, seorang guru mendatangiku. Dengan enteng dia bilang: Wewey, Bapak udah daftarin kamu, ya. Uang pendaftaran sudah masuk. Dua hari lagi pertandingan.”
Tentu aku terbelalak. “Tanding apa, Pak?” kataku. “Silat.”

Aku bingung. Mau membantah takut durhaka. Tapi kalau harus mengembalikan uang pendaftaran, aku tak tahu harus mencari ke mana. Dengan terpaksa, aku menurut.

Hanya ada dua hari untuk belajar. Dan yang lebih ajaib, guru itu hanya mengajariku etiket masuk gelanggang, salam kepada wasit, dan hal-hal sepele lainnya. Sama sekali tak ada teknik pertarungan. Dan, oh, untuk kejuaraan pertamaku itu, meski masih kelas 4 SD, berat badanku melewati ambang batas yang ditentukan. Maka, aku diturunkan melawan anak-anak SMP.

Tendang, tendang, dan tendang

[Lihat Tendangan Maut Wewey]

Takut? Jelas. Musuhku adalah atlet-atlet pencak yang punya jam terbang, sedangkan aku cuma berlatih memberi salam selama dua hari. Aku menang dengan skor 3-2 dalam pertandingan pertamaku berkat teknik tendangan karate. Tendang, tendang, dan tendang. Aku gagal menjadi juara umum, namun saat juara terbaik diumumkan, namaku disebutkan di podium. Sejak saat itulah aku diminta guru-guru menggeluti pencak silat secara serius.

Popwilnas. Popda. Popnas. Satu demi satu kejuaraan berjenjang untuk pelajar itu kuikuti.

Seperti aku jelaskan di awal, hidupku penuh paradoks. Dan itu terjadi lagi di kejuaraan senior pertamaku, saat membela Kabupaten Ciamis di ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda).

Porda harus berusia 17-35 tahun, sedangkan aku baru 14 tahun

Dalam sebuah kompetisi, lazimnya kasus pencurian umur terjadi saat si atlet mengurangi umur jagar tak melebihi batasan. Aku malah sebaliknya. Waktu itu, atlet Porda harus berusia 17-35 tahun, sedangkan aku baru 14 tahun. “Kalau kamu siap, gampang, semuanya bisa diurus,” kata pelatih kepadaku.

Saat itu, aku tak begitu paham dan peduli apakah yang kulakukan benar. Yang kuinginkan hanya ikut kejuaraan dan berprestasi. Lagi pula, kita sama-sama tahu, sulap-menyulap bukan hal yang aneh di negara ini.

Aku memenangkan emas. Kabar soal pencurian umur yang kulakukan pun bocor dan jadi perbincangan. Namun, orang-orang sepertinya malah bangga sebab seorang atlet berusia dini mampu mengalahkan atlet-atlet yang lebih senior.

Bonus Rp10 juta untukku, tetapi yang kuterima hanya Rp7,5 juta

Emas Porda itu semestinya berarti bonus Rp10 juta untukku, tetapi yang kuterima hanya Rp7,5 juta—kukira aku tak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana itu bisa terjadi. Aku tak mempermasalahkan hakku yang raib, lagi pula Rp7,5 juta bagi seorang anak SMP sepertiku saat itu sudah teramat besar.

Karierku sebagai atlet pencak silat

Dari titik itulah karierku sebagai atlet pencak silat melejit. Aku bergabung dengan PPLP di Bandung.

Selain Papa dan Mama, aku beruntung memiliki kakek dan nenek yang amat berjasa ketika aku meniti karier di Bandung. Meski sulit, mereka selalu memaksaku menerima uang pemberian mereka, yang aku tahu didapat dengan susah payah.

Saat di Bandung, aku kadang tak bisa makan dengan lahap. Apakah keluarga di Ciamis sudah makan atau belum? Aku merasa telah meninggalkan keluargaku dalam situasi sulit.

Negaraku: Indonesia

Namun, pilihan pelik merantau ke Bandung harus kuambil. Hanya dari sanalah aku bisa berharap membantu Mama, Papa, dan lima adikku menyambung hidup dengan uang saku dan bonus kemenanganku di pelbagai kejuaraan.

Jika boleh jujur, aku sebenarnya sudah letih. 15 tahun aku bertarung, bertarung, bertarung. Aku sadar bahwa menjadi atlet bukan jaminan pasti untuk masa depan—ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang. Namun, di sisi lain, kerja belum selesai, belum apa-apa. Aku akan berhenti hanya jika sudah memberikan prestasi terbaik bagi bangsaku, negaraku: Indonesia.

29 Agustus 2018

Sumber : tirto.id

About Post Author

Wong Ndeso

Travel, Ride, Ngoprek apa aja yang bisa di oprek
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %