IBU MAAFKAN SAYA, SAYA SUDAH BERUSAHA MENCARI TAPI “BAPAK TELAH GUGUR” 5/5 (2)


Aku, Amelia puteri Yani telah kehilangan seorang bapak yang sangat aku cintai dan aku telah rela untuk itu. Dia telah lama 
berbaring di Taman Makam Pahlawan bersama-sama kawan-kawan seperjuangannya. Dia telah membisu dan tidak mungkin lagi aku ajak bicara. Akan tetapi rasanya di keheningan malam yang sunyi, bapakku sering berkata kepadaku: Kau putriku untuk apa bapak ini berkorban, apakah untuk sesuatu atau tidak untuk sesuatu? Apakah sia-sia pengorbanan itu? apakah arti dari jenazah yang telah menyatu dengan tanah ini? Jawablah anakku, karena hanya engkau dan seluruh putra-putri bangsa ini yang dapat memberi jawabab maupun yang dapat memberi arti dari pengorbanan kami ini. 

(isi hati tersisa dari Amelia A.Yani)

Mayor Soebardi ajudan Letnan Jenderal Ahmad Yani

Salah satu kisah yang jarang orang tahu tentang peristiwa pembunuhan Letnan Jendral Ahmad Yani adalah saat sang ajudan Mayor Soebardi mencari sang Jendral tanpa tidur hampir 4 malam…

Mbok Milah pembantu lama yg ikut keluarga Pak Yani oleh anak anak Pak Yani disuruh kerumah om Berdi, salah seorang ajudan kepercayaan pak Yani.

Mayor Berdi tergopoh gopoh setengah berlari ke kediaman Pak Yani.

Saat om Bardi ajudan bapak datang, serta merta kami semua lari berhamburan kepadanya. Sambil menunjuk gumpalan dan ceceran darah, kami beritahu kalau bapak telah ditembak dan dibawa pergi oleh tentara-tentara berseragam hijau, pakai baret merah, sepatu lars dan banyak kain-kain kecil warna putih, merah, kuning di pundak mereka.

Tiba-tiba sebuah jib masuk pekarangan rumah kami

Om Bardi kaget. Dahinya mengkerut. Dia seakan berusaha mencari jawaban, kenapa bapak dibunuh. Sejurus dia mondar-mandir dengan nafas yang tidak menentu.

Belum habis dengan Om Bardi, tiba-tiba sebuah jib masuk pekarangan rumah kami, setelah ditengok rupanya jib itu membawa ibu pulang. Begitu masuk rumah ibu kaget lantaran mendapati kami semua sudah bangun. Ibu bertanya, “Ada apa pagi-pagi sudah bangun”. Dengan perasaan galau, kami katakan, “Bu… bapak bu. Bapak ditembak dan dibawa pergi naik truck”. Seketika ibu menjerit-jerit.

Ibu histeris. Sambil berlari ke luar rumah ibu meminta, “Cari! Cari bapak! Cari sampai ketemu! Kemana bapak? Cari! Cari!”.

Kami semua tertegun bingung, kacau. Sementara Om Bardi tampak terus mondar-mandir karena bingung tak tahu harus buat apa. Sejurus ibu pingsan dan kami gotong beramai-ramai ke dalam rumah. Ia dibaringkan di kursi biru di ruang makan. Ketika sadar dari pingsannya, ibu mengajak kami untuk berdoa bersama.

Jam 06.00 pagi, Jenderal Umar Wirahadikusuma, Panglima Kodam V Jaya datang sebelum masuk ke rumah dan menemui ibu Yayuk, Pak Umar marah marah pada tentara garnisun yang bertugas menjaga rumah pak Yani.

Diluar datang lagi ajudan Pak Yani yang lain yakni Mayor Sandi, dengan muka masih pucat dan terlihat panik om Sandi marah marah pada pasukan yang menjaga rumah Pak Yani..

Kabar buruk kedua di pagi hari itu

” Bagaimana sih kamu ini!.. Masak jaga begitu saja tidak mampu!…. Kamu tentara t**k!…semua t**k!”…

Para penjaga yang malam itu bertugas hanya diam dimaki maki sang Ajudan…

Dengan membawa mobil fiat milik Emmi Yani, putri Pak Yani, dua ajudan Menpangad ini menuju rumah pak S. Parman untuk melapor dan mendapatkan petunjuk untuk tindak lanjut dari asisten intellijen itu. Ternyata, mereka justru mendengar kabar buruk kedua di pagi hari itu di rumah Soewondo Parman, bahwa sang jenderal juga diculik dinihari itu dari kediamannya. Segera keduanya meluncur ke rumah Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah dan tiba di sana 05.00. Ternyata Umar pun belum memperoleh sesuatu informasi yang berarti.

Mayor Subardi yang belum mengetahui nasib Letnan Jenderal Ahmad Yani yang sebenarnya, menyarankan kepada Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah meminta bantuan RPKAD untuk memblokir seluruh jalan penting di ibukota dan jalan keluar dari Jakarta. Sang Panglima Kodam menyetujui usul tersebut dan menyuruh mereka berdua pergi menemui Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Pak Sarwo Edhie Wibowo menerima mereka dengan masih mengenakan baju tidur, saat menerima laporan singkat, Pak Sarwo Edhie Wibowo melirik potret Soekarno yang tergantung di dinding seraya berkata…

” Pasukan RPKAD ada di Senayan dan tanpa peluru”.

Akhirnya melalui telepon ia menghubungi Komandan Batalion I, Mayor Chalimi Imam Santosa, yang tinggal beberapa blok dari kediamannya di kompleks tersebut. Kolonel Sarwo Edhie yang telah memakai seragam ‘tempur’, tiba dalam beberapa menit kemudian di kediaman Mayor CI Santosa dan menanyakan posisi pasukannya. Ternyata pasukan Santosa berada di Parkir Timur Stadion Senayan, karena akan mengikuti gladi resik dalam rangka persiapan Hari ABRI 5 Oktober 1965.

Pasukan tersebut, meski bersenjata lengkap, namun tak dibekali peluru. Kolonel Sarwo Edhie memerintahkan Mayor Santosa segera menarik pasukannya kembali ke Cijantung.

Saat itu, personil RPKAD yang berada di Cijantung terbatas, terutama karena sebagian berada di daerah perbatasan dengan Malaysia atau ditempatkan di daerah lainnya. Santosa segera meluncur ke Senayan dan tiba di sana tepat pukul 06.00. Ia mengumpulkan seluruh anggota Batalion I, memerintahkan mereka naik truk untuk segera berangkat kembali ke Cijantung.

Mereka berpapasan dengan sebuah truk

Seorang Laksamana Muda Angkatan Laut yang menjadi koordinator pasukan-pasukan yang dipersiapkan untuk acara di Senayan itu, muncul dan mempertanyakan ada apa dan hendak ke mana pasukan itu pagi-pagi begini, tapi Mayor Santosa menghindar dengan sopan lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat. Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan sebuah truk perbekalan yang dikirim Sarwo Edhie, berisi amunisi. Mayor CI Santosa segera membagi-bagikan peluru kepada pasukannya, sehingga sejak saat itu, pasukan yang berkekuatan beberapa kompi tersebut sudah dalam keadaan siap tempur.

Di Markas RPKAD Cijantung Batalion 1 ini berkumpul di lapangan, bergabung dengan kompi dari Batalion 3 yang berasal dari Jawa Tengah yang tiba beberapa waktu sebelumnya dan disiapkan untuk berangkat ke daerah perbatasan konfrontasi di Kalimantan Barat namun terhambat keberangkatannya belasan jam karena masalah angkutan udara yang terkendala. Terdapat pula sejumlah personil yang terdiri dari instruktur dari Batujajar yang akan ikut dalam kegiatan Hari ABRI.

Siapa saja yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.

Mayor CI Santosa memberikan briefing ringkas, bahwa tak ada satu pun anggota pasukan yang boleh bergerak tanpa perintah darinya, dan “saya akan menembak mereka yang melanggar perintah”. Kolonel Sarwo Edhie Wibowo yang tampil berbicara sesudah itu, membentangkan dengan singkat tentang adanya sejumlah jenderal Angkatan Darat yang diculik dinihari tersebut dan belum diketahui dengan jelas oleh siapa atas perintah siapa, dibawa ke mana dan bagaimana nasibnya saat itu. Sarwo juga memperingatkan agar waspada, karena saat itu belum bisa ditentukan dengan jelas siapa saja yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.

sekitar 10.30, Sarwo Edhie mendengar derum panser menuju ke tempatnya. Ia bersikap waspada. Seorang Letnan Kolonel yang tak dikenal Sarwo meloncat turun dari panser.

” Sopo kae Di?” tanya komandan Resimen elit Angkatan Darat ini pada Mayor Bardi… namun sebelum Mayor Bardi menjawab sudah ada staf RPKAD yang memberi tahu pak Sarwo Edhie Wibowo bahwa itu adalah Letnan Kolonel Herman Sarens Sudiro, seorang perwira yang menangani logistik tempur dan penempatannya dilakukan atas perintah Letnan Jenderal Ahmad Yani sendiri. Herman Sarens mengaku kepada Kolonel Sarwo bahwa ia diutus Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto, dan untuk itu ia dibekali sepucuk surat, menjemputnya untuk bertemu dengan sang Panglima Kostrad di Merdeka Timur.

Kolonel Sarwo Edhie menjawab, sambil tertawa, “Dengan panser”.

Agak lama Sarwo Edhie membaca surat Soeharto. Komandan RPKAD itu mempertimbangkan, apakah ia memenuhi panggilan Soeharto atau tidak. Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto bukan atasan langsungnya, dan RPKAD pun tidak berada di bawah komando Kostrad. Ia tidak mengenal Soeharto dengan baik. Namun, ketidakjelasan keberadaan dan nasib atasan langsungnya, Letnan Jenderal Ahmad Yani, mendorongnya untuk bersedia bertemu dan menghitung bahwa suatu kerjasama dengan Soeharto dalam situasi serba tidak jelas saat itu mungkin ada gunanya. Lalu, ia berkata kepada Letnan Kolonel Herman Sarens Sudiro, “Saya akan ke sana”. Herman Sarens balik bertanya, dengan kendaraan sendiri atau ikut panser? Kolonel Sarwo Edhie menjawab, sambil tertawa, “Dengan panser”. Pukul 11.00 Sarwo Edhie sudah berada di Markas Kostrad dan bertemu Mayor Jenderal Soeharto. Keputusan Mayor Jenderal Soeharto mengajak Kolonel Sarwo Edhie bergabung, dilakukan dengan memperhitungkan kedekatan Komandan Pasukan Khusus itu dengan Letnan Jenderal Ahmad Yani. Takkan mungkin Sarwo Edhie menolak, bila itu menyangkut nasib Ahmad Yani.

Dari tanggal 1 sampai tanggal 2 Oktober masih belum jelas nasib para Jendral, Mayor Bardi sendiri sudah mutar mutar Jakarta untuk mencari nasib atasannya tersebut, hingga tanggal 3 Oktober jam 04.30 telepon berdering….

Pak Yani sudah tiada…

” Di…bapak mu positif wes ra” ene’.. sudah gugur dan Pak Harto sedang ke Bogor.. Kamu segera ke markas Kostrad! ” suara Kolonel Ali Moertopo diserang telepon.

Bagai disambar petir… Mayor Bardi mendengar Pak Yani sudah tiada… sempat menitikan air mata sang ajudan ini akhirnya berangkat ke markas Kostrad.

Setelah menghadap pak Harto, Mayor Bardi di minta membawa serta Soekitman seorang anggota Polisi yang lolos dari kawasan Lubang Buaya.

Soekitman di anggap tahu keberadaan sumur tersebut mengingat ceritanya. Menuju ke Cijantung untuk menemui pak Sarwo Edhie Wibowo…

” Iyo yo…wes ene perintah seko bung Karno, pasukan tidak boleh bergerak dan dikumpulkan dikesatuan masing masing, kalo aku beri pasukan, artinya aku melanggar perintah”

Kita berangkat terang terangan.. operasi terbuka!”

” Di, ambil polisi itu nanti kemari lagi, akan saya beri pasukan berpakaian preman” perintah pak Sarwo Edhie Wibowo pada Mayor Bardi.

Mayor Bardi memberi hormat dan langsung menuju KOMDAK METRO JAYA untuk menjemput Soekitman, sesuai perintah pak Sarwo Edhie Wibowo tadi mereka kembali ke markas RPKAD di Cijantung…

Saat baru saja memberi Hormat.. ” Di! Situasi nya lain!… Pasukan sudah siap, kita tidak perlu preman premanan, kita berangkat terang terangan.. operasi terbuka!”

Bergerak mereka menuju lubang buaya. Sesampainya di sana sempat dihadang oleh kesatuan PGT nya AURI. Sempat bersitegang sebelum akhirnya mereka bisa ke lokasi sumur maut itu.

Pencarian dan penggalian dimulai sampai jam 02.00 pagi, akhirnya Mayor Bardi berangkat menuju Kostrad untuk melaporkan situasi pada Pak Harto. Setelah melapor sang ajudan kembali ke lokasi lubang buaya jam 03.00 dan menunggu sampai siang karena Pak Harto akan hadir pada saat pengangkatan jenasah.

Jam 14.00 pak Harto datang dan memimpin langsung pengangkatan jenazah para Jendral Angkatan Darat tersebut

Lama sekali waktu dirasakan Mayor Bardi saat itu, sampai saat suasana mereda dan Pak Harto berbisik pada Mayor Bardi….

” Di urusen Bapakmu, dan segera melapor pada bu Yani”

Awalnya Mayor Bardi menolak, namun pak Harto kembali berkata ” wes koe wae”

Dengan berat hati membayangkan seperti apa sedihnya ibu Yani,Mayor Bardi langsung ke Pasar Minggu untuk menemui Ibu Yani…

“Ibu maafkan saya, saya sudah berusaha mencari tapi bapak telah gugur” seraya menunduk tanpa berani menatap istri sang atasan.

Mata Mayor Bardi pun tak terasa meneteskan air mata…

Dari kisah di buku karya ibu Amelia Yani

Artikel Terkait

Please rate this

Hits: 92

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *